Halo IMMawan/ti Selamat Datang!. Informasi Kami.

Perempuan Yang Berkeadaban (Pedoman IMMawati)

Pada hakikatnya, eksistensi perempuan khususnya IMMawati tuh untuk apa sih?

Bukankah IMMawati adalah penerus estafet Aisyiyah kedepan?

Berarti harusnya mereka bisa menjadi solusi dari berbagai problematika terkait perempuan dong?

Kalau begitu, arah juangnya harus jelas dan terarah dong?

Umm, bagaimana seharusnya perempuan khususnya IMMawati bergerak dan membuat pergerakan?

Yuk, belajar bareng!

Berawal dari kata ‘pedoman’, berarti ‘landasan’ atau ‘dasar’. Jadi, kaitannya dengan pedoman IMMawati itu berarti dasar atau landasan IMMawati dalam bergerak dan membuat pergerakan sesuai dengan yang sudah termaktub dalam sebuah buku Pedoman IMMawati.

Coba kiita analogikan sebagai sebuah perjalanan menuju pulau impian. Pulau impian adalah ‘goal’ atau tujuan kita. Artinya kita membutuhkan sebuah peta untuk menuju ke sana bukan? Tidak mungkin jika kita ingin sampai ke pulau impian sedangkan kita tidak tau ke mana arah yang harusnya kita tuju. Mungkin bisa saja kita sampai ke pulai impian, namun membutuhkan waktu yang lama jika kita hanya berputar-putar tanpa tau arah. Nah, begitu juga dengan IMMawati, kita juga memiliki Pedoman IMMawati agar pergerakan kita lebih terarah. Tujuan kita adalah membuat perubahan, dari yang diperbudak menjadi merdeka, dari yang tidak berdaya menjadi berdaya dengan potensi. Maka kita butuh sebuah pedoman yang bisa kita jadikan sebagai sebuah dasar yang kuat untuk memperjuangkan hak perempuan melalui pergerakan-pergerakan perempuan.

IMMawati memiliki orientasi terhadap isu yang  berkaitan dengan perempuan. Jadi, apapun yang berkaitan dengan problematika perempuan, kita sudah semestinya menjadi garda terdepan untuk mencari pemecahan masalahnya. Hanyasaja kita adalah penegak kebebasan/hak perempuan, lantas tidak membuat kita menjadi perempuan yang eksklusif, terpisah dan mengasingkan diri serta tidak terbuka terhadap pemikiran-pemikiran yang justru seharusnya kita pelajari dan kita pahami untuk mempertajam  keilmuan kita.

Kita harus memiliki ideologi yang kuat berdasarkan Islam rahmatan lil ‘alamiin. Eksistensi Islam sesungguhnya untuk kemanusiaan yang universal dan perempuan yang berkeadaban. Universal dalam konteks mencari dan berpikir serta peduli terhadap permasalahan perempuan dari berbagai kalangan perempuan dengan berbagai sudut pandang, bukan hanya dari sudut pandang agama saja, namun juga seluruh kalangan perempuan yang ada di muka bumi ini dengan berbagai perspektif keilmuan karena perempuan memiliki hak yang sama untuk diperjuangkan dan ditegakkan.

Misal, kita mendapati isu terkait kekerasan seksual. Maka kita harus mampu mengkaji dari berbagai sudut pandang, mulai dari pandangan agama, politik, kesehatan, dan psikologisnya. Jangan sampai karena keegoisan dan ketidakpahaman kita terhadap beberapa informasi terkait beberapa hal di atas justru menjadikan kita sendiri yang menciptakan korban-korban baru dikemudian hari.

Kita, para perempuan khususnya IMMawati harus memiliki visi yang jelas dan kuat. Adapun visi itu adalah IMMawati sebagai komunitas yang beradab, berperilaku baik, berbudi bahasa yang baik, memiliki sopan santun, dan berkemajuan dalam tingkat kehidupan lahir batinnya. Hal itu bisa kita wujudkan jika kita mau dan haus untuk terus belajar dan mempersiapkan diri guna menjadi perempuan yang lebih  beradab lagi kedepannya. Perempuan yang beradab dapat membuat pergerakan yang mampu menekan dan menghalang informasi-informasi negatif. Karena informasi negatif akan selalu ada dan tidak akan musnah, dan itu adalah sunnatulllah, terutama melalui media-media yang saat ini sangat masif namun tak kondusif. Maka upaya yang bisa kita lakukan adalah dengan membuat pergerakan positif sebagai perlawanan, sebagai anti-thesis terhadap berbagai informasi negatif. Jika banyaknya konten receh atau konten negatif yang viral, maka konten positif harus diproduksi lebih banyak lagi, di buat lebih menarik, inovatif dan lebih viral agar dapat menekan arus konten negatif.

Seperti jargon kita perempuan yang  beradab, ‘ideologi mantab, intelektual terasah, skill memadahi, dan leadership teruji’. Kita bisa mulai dengan hal yang paling mendasar, yaitu ‘ideologi’. ‘Ideologi’ yang kita miliki harus mantab agar bisa menjadi landasan yang kuat sebagai upaya dalam mencari solusi terhadap isu-isu perempuan lainnya. Kemudian ‘intelektual terasah’, jadilah pembaca yang rakus, pecinta diskusi, dan pecinta ilmu pengetahuan. Kemudian ‘skill yang memadahi’, perempuan harus mengasah kemampuan yang dimiliki. Setiap dari kita adalah manusia yang unik dengan banyak potensi dalam diri. Tugas kita adalah mengasah dan mengembangkannya agar bisa menjadi manfaat untuk orang lain. Kemudian yang terakhir, ‘leadership teruji’. Siapa bilang perempuan setelah menikah lantas pensiun dari tugasnya sebagai kader perubahan, sebagai garda juang kaum hawa?  Justru semakin mature usia kita, maka seharusnya semakin mature pula pemikiran dan kemampuan leadership kita. Jika waktu menduduki bangku sekolah kita menjadi seorang aktivis, maka setelah menikah dan bahkan memiliki anak seharusnya kita bisa menjadi lebih ‘aktivis’ lagi dari sebelumnya.

Perempuan khususnya IMMawati harus bisa menjadi solusi bagi permasalahan perempuan yang lain. Lalu apa langkah nyata kita untuk mewujudkan goal tersebut?

Pertama, kita harus paham dengan posisi kita. Siapa kita dan apa peran kita. Misalkan kita adalah seorang mahasiswa, maka peran kita adalah sebagai pelajar.

Kedua, memahami karakteristik. Karena karakteristik setiap orang itu berbeda—berbeda lingkungan berbeda pula karakteristiknya—maka dari itu yang perlu kita lakukan adalah melakukan pendekatan sesuai dengan karakteristik kita, dan itu akan menjadi cirikhas serta konsen keilmuan yang kita kaji.

Ketiga, melakukan sebuah pendekatan. Pendekatan yang paling efektif adalah pendekatan emosional, dengan sering mengobrol misalkan dengan cara berdiskusi santai atau ngopi bagi yang suka, kemudian main bareng, dan dari situlah kita bisa tampakkan jati diri kita bahwa IMMawati adalah perempuan yang beradab dengan perilaku baik, sopan, santun, dan ramah kepada orang lain.

Keempat, kita bisa mengikuti komunitas untuk peduli terhadap problematika yang ingin kita selesaikan. Jika dirasa tidak mampu, maka cukup dengan mengadakan kajian-kajian terkait permasalahan yang ingin kita selesaikan sebagai upaya mengedukasi orang lain terkhusus para perempuan kita.

Perempuan khususnya IMMawati harus mampu berpikir global namun juga harus mampu bertindak lokal. Pemikiran kita harus bisa merambah luas ke berbagai kalangan, namun cara kita bertindak harus bisa menyesuaikan dengan situasi, kondisi, dan karakteristik di mana kita berada. Kita para perempuan harus bisa mencari cara yang tepat agar goals kita tercapai dengan tepat sasaran. Adanya pedoman sebagai landasan yang  jelas akan menjadikan kita semakin kuat untuk mempertahankan gagasan yang ada dalam pikiran dan keyakinan kita sehingga kita tidak perlu khawatir lagi jika terjadi sebuah perlawanan.

Isu yang sering kita gagas adalah terkait permasalahan sosial, lingkungan, dan kemiskinan. Maka dari itu perubahan yang ingin kita capai adalah sebuah kemerdekaan perempuan, pemberdayaan perempuan, eksplorasi diri, dan kebebasan pengembangan potensi perempuan. Karena hidup adalah sebuah pilihan, kita yang dulu adalah gambaran kita yang sekarang dan kita yang sekarang adalah gambaran kita di masa yang akan datang, maka perempuan harus merdeka secara pilihannya. Perempuan harus berdaya sesuai dengan potensinya.

Perempuan yang beradab adalah perempuan yang senantiasa meng-upgrade diri, dengan cara menggali potensi dan mengembangkannya, bersikap universal, haus akan ilmu pengetahuan, memperbanyak literasi dengan membaca dan menulis, serta memantaskan diri untuk menjadi perempuan yang lebih hebat dan lebih bermanfaat lagi bagi umat di masa yang akan datang.

Oleh: Al Mirra Silmi Mutawakkal
(Sekbid IMMawati PC IMM Ahmad Dahlan Kota Surakarta)


Posting Komentar

Akses seluruh artikel dengan mudah melalui smartphone!